He broke into the house of a Chinese in the middle of the night— Dia pechah masok rumah orang China tengah malam.

He was not alone; there were several others with him— Bukan dia sa’orang ada juga dua tiga ampat orang kawan-nia.

They were all Malays— Melayu belaka[41] ka-sumua-nia.

He was not the principal, but an accomplice— Bukan dia kapala tetapi dia menyerta-i sama.

Their intention was to steal the gold ornaments— Kahandak hati-nia mahu churi barang-barang mas.

He used abusive and improper language— Dia ber-maki-maki dengan yang ta’patut.

What is the name of the defendant?— Siapa nama yang kĕna adu itu?

What the prosecutor says is quite right— Benar juga saperti kata adu-an.

Exercise.

Maka mantri pelanduḳ itu-pun ber-lari-lah pergi men-dapat-kan raja gajah itu seraya ber-pikir di-dalam hati-nia, “handak meng-halau-kan gajah ini ter-lalu susah-kah? ada-pun saperti sagala raja-raja itu jikalau handak mem-bunoh orang itu saperti laku orang ter-tawa bahwa damikian-lah raja ini-pun dengan sa-buntar ini juga aku halau-kan jikalau damikian baik-lah aku naik ka-atas gunong ini,” maka ka-lihat-an-lah raja gajah itu serta dengan sagala tantra-nia maka ber-sĕru-sĕru-lah pelanduḳ itu dengan niaring suara-nia kata-nia “ada-kah tuanku serta tantra tuanku sakalian baik?” maka menulih-lah raja gajah itu serta dengan marah-nia kata-nia “Hei benatang yang kechil lagi hina apa sebab-nia angkau menyĕru aku di tengah jalan dengan ka-laku-an be-adab[42] ini siapa-kah angkau ini?”